Tuesday, 7 January 2014

Resensi Novel "Gus Yahya bukan Cinta Biasa"



Judul                           : Gus Yahya Bukan Cinta Biasa
Pengarang                   : Fina Af’idatussofa
Penerbit                      : Matapena
Jumlah halaman           : x + 195, 11 x 17 cm
Terbit                          : Januari 2007

                                    

            Kalau di hitung-hitung, Gus  Yahya kecil memang sudah habis-habisan dengan segala cara upaya untuk mendekati Zahra. Dari yang biasa-biasa seperti melakukan kebiasaan Zahra belajar nyeruling sama Yadi di pematang sawah, sampai yang norak abis, seperti berkirim mawar dan surat cinta yang ditaruh di teras pesantren puteri. Tidak Cuma itu, yahya juga tak kenal lelah menyapa Zahra dengan pesan kertasnya yang ditaruh di kursi taman, tempat Zahra biasa belajar, sepanjang waktu.
Sayangnya, Zahra tetap cuek aja menghadapi gerakan cinta Yahya. Meski tidak dengan marah-marah, santri baru di pesantren abahnya Yahya itu malah sibuk dengan tugas-tugas belajarnya di pesantren.  Untungnya cinta Gus Yahya tidak pupus meski harus jatuh bangun untuk membuat cinta itu bisa dimengerti. Cintanya tidak mengenal istilah habis meski harus berhadapan dengan pergantian waktu hampir tujuh tahun. Bahkan, sampai tiba waktunya Zahra untuk keluar dari pesantren, Gus Yahya tetap tersenyum menyampaikan cintanya. Tentu saja, karena cinta Gus Yahya bukan cinta biasa.

            Novel yang bertakjub dengan nuansa pesantren ini sangat menarik untuk dibaca karena jalan ceritanya yang tidak begitu rumit dan halaman nya yang tidak terlalu tebal serta tata bahasa yang digunakan mudah di terima terutama bagi kalangan muda yang hobi membaca novel sehingga tidak membuat jenuh.

            Namun, novel yang berjumlah lebih dari 195 halama ini akan lebih menarik jika kertas yang digunakan lebih sedikit berwarna agar seorang pembaca lebih ber antusias untuk terus membaca. Karena kertas yang digunakan merupakan kertas buram yang katanya membuat pembacanya ngantuk. 

No comments:

Post a Comment